Di Desa Sumberjati Kecamatan Jatirejo Ada Tante Rika Bisa SMS

MOJOKERTO, Jejakjurnalis.com – Diujung Desa Sumberjati Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto terdapat pusat pelatihan terpadu milik Yayasan Pelita Indonesia Timur (PIT) yang berkantor pusat di Surabaya, dengan ketua Yayasan Handojo.

Yayayan Pelita Indonesia Timur (PIT), bertujuan untuk
mendukung program pemerintah dibidang ketahanan pangan, dan menyiapkan tempat pelatihan Pertanian Organik Terpadu di lolasi Desa Sumberjati, Kecamatan
Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Peserta pelatihan ini diutamakan berasal dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) di Indonesia seperti NTT, Maluku, Papua dll, namun, juga terbuka untuk pemuda yang ada di sekitar tempat pelatihan secara gratis.

Agus Catur asal Kabupaten Malang, mengatakan “di pelatihan ini, saya sebagai bapak asrama, dan sekaligus membimbing anak-anak yang praktek di diklat ini.” Ujarnya. Kamis (3/3/2025) Sore.

Catur menambahkan,
materi pelatihan meliputi bidang pertanian, peternakan dan perikanan secara organik dan terpadu, terintegrasi, berkelanjutan serta tidak ada limbah yang terbuang, dimana pelatihan terpadu ini, semua bahannya dari organik, sehingga dapat menciptakan generasi yang mandiri.” Jelasnya.

Tempat pelatihan terpadu ini meliputi pertanian, peternakan dan perikanan untuk menuju generasi sehat, mandiri dan sejahtera, disingkat “Tante Rika bisa SMS.” Saya biasa menyebutkan begitu biar orang gampang mengingatnya.

“Tante Rika Bisa SMS ini, tujuannya adalah untuk ketahanan pangan, dan tidak hanya ketahanan pangan saja, namun untuk kedaulatan pangan, dan kedaulatan pangan itu bisa berasal dari lingkungan sendiri dengan memanfaatkan lahan kosong disekitar rumahnya.” Tegas Catur.

Sementara itu, Umbu Deki Sipul, pria muda asal Pulau Sumba ini, biasa dipanggil Udes, berkata “saya setelah lulus dari diklat ini, pulang kampung untuk mempraktekan ilmu saya disana, dan saya akan mengajak teman-teman untuk belajar mandiri.”

“Pengalaman saya disini sangat bermanfaat dan banyak pelajaran yang kami peroleh, serta kemandirian betul-betul diterapkan, terutama pada lahan-lahan kosong dimanfaatkan untuk lahan pertanian, peternakan dan perikanan, sehingga kedepannya akan menunjang perekonomian kami disana.” Ujar Udes.

Masih dia, “kami bersama 11 orang mengikuti diklat disini belum sampai dua bulan, sudah bisa memahami arti kemandirian, kami dari Sumbawa 5 orang termasuk saya, dari Alor 1 orang, Ngawi 2 orang dan Kupang 4 orang. Kami disini angkatan pertama. Informasinya diklat ini dilaksanakan setiap tahun dua kali.” Pungkasnya.

Adapun tutor dalam diklat ini terdiri dari beberapa dosen, seperti dari Unibraw, UI, UGM, ITS, ITB, UNIRAT Indonesia, UNSUD dan termasuk dari India dan luar negeri lainnya. (Jo)

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp