Madiun, Jejakjurnalis.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Madiun mengadakan kegiatan Gangguan reproduksi (Gangrep) di Kelompok ternak sapi Lembu Lestari yang dikepalai oleh Isnanto, desa Sidomulyo Kecamatan Wonoasri, (11/7/2023).
Kegiatan tersebut sama dengan di kelompok Nedyo Rahayu ternak sapi perah di desa Kresek Kecamatan Wungu, komoditasnya yang beda (sapi potong betina) terkait gangguan reproduksi.
Seperti yang dikatakan ketua tim dari DKPP Kabupaten Madiun, Drh. Harris, kita telah melakukan pemeriksaan per rektal pada 10 ekor sapi, tim mendapatkan 2 sapi mengalami gejala anestrus (tidak birahi), dengan diagnosa silent estrus (birahi diam).
Lebih lanjut Harris menjelaskan, akhirnya kami lakukan terapi dengan suntikan hormon pgf2alfa di sub mukosa vulva dan suntikan vitamin A, D serta E secara intramuskuler.
“Diharapkan sapi-sapi itu nantinya bisa muncul birahi diantara 3 sampai 5 hari kedepan,” ungkapnya. (13/7)
Selain itu juga kita berikan premix sejumlah 5 pack (5 kg), untuk dicampurkan ke minum/comboran sapi lain untuk memenuhi kebutuhan mineralnya.
Sementara itu Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Madiun, Ir. Sus Mardijanti mengatakan, kegiatan gangrep dilakukan setiap hari Selasa, di 15 Kecamatan dan sudah dilaksanakan kurang lebih 2 bulanan dari tanggal 23 Mei-11 Juli 2023.
Lebih lanjut dikatakan, kegiatan ini dilakukan fungsinya untuk melihat sapi-sapi di Kabupaten Madiun tidak mengalami gangguan reproduksi dan majer, kalau ada yang bermasalah nantinya akan ditangani atau dilakukan tindakan mana yang terbaik.
“Untuk pelaksanaannya, gangrep dibagi 6 tim, yang masing-masing tim diketuai dokter hewan dan dibantu 2 orang plh serta satu orang dari pkwt,” ujarnya.
Apabila dari sapi-sapi tersebut mengalami majer (tidak produktif) lagi, maka sapinya dijual dan diganti dibelikan sapi untuk diserahkan ke kelompok bantuan sapi ternak.
Disetiap kelompok sapi ternak sudah ada Puskeswan, dimana nantinya sapi-sapi yang mengalami gangrep bisa dibantu dengan suntikan hormon atau vitamin.
“Dengan diadakan kegiatan gangrep yang dilasanakan 2 tahun sekali ini, nantinya masyarakat bisa tahu langkah-langkah apa yang harus dilakukan, apabila sapinya mengalami majer, di masing-masing kelompok ada petugas yang nanti bisa menangani,” pungkasnya.(Ben)