Madiun, Jejakjurnalis.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Ternak (DKPP) Kabupaten Madiun, dalam hal ini Bidang Peternakan mengadakan kegiatan terkait Gangguan Reproduksi (Gangrep) terhadap sapi ternak di Kabupaten/Kota Madiun.
Kegiatan pengendalian dan pengawasan penyediaan peredaran benih/bibit ternak dan hijauan pakan ternak di Kabupaten/Kota Madiun terbagi dalam 6 tim, di 70 desa dan 70 kelompok dengan jumlah sapi sebanyak 1396 ekor.
Seperti yang disampaikan Kabid Peternakan, Drh. V. Bagus Sri Yulianta, di ruang kerjanya kepada wartawan, bahwa tujuan dari pada Gangrep adalah untuk memberikan penyuluhan dan pemeriksaan kepada kelompok peternak sapi potong, maupun masyarakat yang memelihara sapi dimana ternaknya mengalami gangguan reproduksi. (6/6)
Lebih lanjut Bagus mengatakan, kegiatan Gangrep tahun ini dilaksanakan mulai tanggal 23 Mei sampai nanti selesai tanggal 11 Juli 2023. Dimana dilaksanakan setiap hari selasa, salah satunya mengadakan pemeriksaan dan penyuntikan vitamin pada kelompok sapi ternak Lestari, desa Nglanduk, Kecamatan Wungu, Selasa (6/6/2023).
“Dilanjutkan hari Selasa tanggal 13 Juni 2023 di kelompok sapi perah Nedyo Rahayu desa Kresek kecamatan Wungu, dengan cek kondisi sapi menggunakan Rontgen,” ujarnya.
Kabid Peternakan Bagus menambahkan, kegiatan Gangrep ini dilaksanakan karena banyaknya keluhan dari kelompok, yang mana sapi-sapinya banyak mengalami keterlambatan reproduksi.
Untuk itu pihaknya dan tim yang ada melakukan pemeriksaan maupun penyuntikan vitamin ke seluruh kelompok sapi ternak yang ada di Kabupaten Madiun, sehingga sapi-sapi tersebut bisa sehat dan produksi lagi.
“Kita juga menerima bagi warga yang juga memelihara sapi diluar kelompok sapi ternak, seandainya ternaknya mengalami gangguan reproduksi,” paparnya.
Dari sekian banyak keluhan, ternyata kendalanya ada di faktor makanan hampir 60% kebanyakan diberi makanan jerami. Dimana ada jenis makanan yang lebih baik seharusnya diberikan buat sapi, agar buat stamina dan produktivitas cepat.
Diantaranya rumput gajah, king grass ada juga jenis rumput namanya odot yang lagi ngetren baik buat makanan sapi, tapi masyarakat tidak ada yang mau menanam, pada hal lahan sudah ada. Dari Dinas Peternakan sendiri menyediakan gratis ada kerja sama (MoU) dengan UPT Prampelan.
“Kegiatan rutin kita saat ini fokus ke sapi potong, ada juga sapi perah di Kresek 1 kelompok, di Madiun sendiri mayoritas kelompoknya sapi potong hampir 99%, dan 1% sapi perah,” kata Bagus.
Menurut Bagus, untuk usia sapi ternak yang sudah produktif atau siap untuk dikawinkan adalah usia 2 tahun, itu yang ditrapkan ke kelompok dan masyarakat peternak sapi.
Kedepannya diharapkan gangguan reproduksi bisa diatasi, dimana keluhan dari masyarakat banyak sapi-sapi yang dikawin 6-7 kali tidak ada tanda-tanda ke buntingan, untuk itu pihaknya akan berupaya agar bisa berproduksi lagi.
“Apa lagi dengan adanya rontgen yang diapresiasi oleh Bupati sudah kita laksanakan,” pungkas Bagus. (Ben)






