Napak Tilas Mojopahit Barat Dan Timur, Tema Anggoro Kasih Ke 16

Redaksi
By Redaksi
5 Min Read

Mojokerto, Jejakjurnalis.id – Pagelaran Anggoro Kasih sudah masuk pada gelaran yang ke 16 kali, setelah sebelumnya keliling tampil di beberapa tempat.

Gelaran kali ini, merupakan yang sangat istimewa, karena dihadiri oleh ketua DPRD Propinsi Jawa Timur, Kusnadi, SH, S.Hum, bertempat di Pendopo Desa Ngares, Kecamatan Gedeg, Senen, 4/12/2023, Malam

Drs. Kartiwi, ketua Anggoro Kasih, sekaligus pembawa acara, mengemas apik acara ini, sehingga semua yang hadir dibuat hening, karena susunan acara ditata seperti film berseri, dan para narasumber berfokus pada satu titik tema, yang saling berhubungan.

Tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan juga pelaku budaya ini, pada awak media menceritakan “Acara Anggoro Kasih setiap tampil auranya selalu berbeda, dan itupun saya sendiri tidak tahu, namun banyak teman-teman mengatakan, bahwa Anggoro Kasih walaupun tampil berpindah-pindah tempat, namun suasananya selalu berbeda, terang Kang Tiwi ini.


Lanjut Kang Tiwi panggilan akrabnya mengatakan, benar kata Pak Iwan dari Bakesbangpol Kab. Mojokerto itu bercerita, tiga kali hadir, suasananya berbeda-beda seperti mistik dan apalagi tadi, lupa saya. Katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Ngares, Yasin mengucapkan terima kasih kepada Gus Taji selaku ketua Laskar Mojopahit telah menempatkan kegiatan Anggoro Kasih di Desa Ngares ini dan saya mengundang semua RT dan RW di lingkungan sini untuk hadir, terangnya.

Hadir, selain Kusnadi dan Kartiwi, tampak hadir pula dari Forpimca Gedeg, Abah Taji, Syamsul Fuadi atau Resi Surya Prana, dan pelaku budaya lebih kurang seratus orang.

Sementara itu, Kusnadi, ketua DPRD Propinsi Jawa Timur yang didapuk sebagai narasumber, bercerita tentang perbedaan antara Anggoro Kasih dengan Valentine Day, riwayat Kerajaan Mojopahit, dengan Gajah Madanya yang bisa mempersatukan Kerajaan Mojopahit Barat di Mojokerto dan Kerajaan Mojopahit Timur di Lumajang.

Masih Kusnadi, memang sejak dulu Allah telah menciptakan yang ada di dunia ini berbeda-beda, namun tetap satu tujuan sesembahannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lanjut dia, seperti sekarang ini adalah tahun politik di mana-mana ada perbedaan, namun presiden terpilih adalah presiden kita bersama. Tegasnya.

Di tempat yang sama, Iwan dari Bakesbangpol Kab. Mojokerto, mengatakan “seperti kita masuk ke warung, dan masing-masing memilih makanan berbeda-beda, hal itu sama dengan pemilu, dimana masing-masing orang berbeda pilihan, namun tetap satu, pemilu harus aman dan kondusif. Pesannya.,

Syamsul Fuadi, tidak kalah pentingnya dalam membicarakan tentang budaya, bahwa tidak ada satupun negara di dunia ini yang dibangun tanpa budaya, bahkan ekonomi mereka itu terbangunkan dengan adanya budaya, seperti Amerika dengan Holywoodnya, India dengan Bolywoodnya,
Korea dgn tarian Gang Nam Style telah mampu mendongkrak pendapatan Negara Korea dan juga Pulau Dewata Bali menjadi sumber devisa negara karena menjual nilai nilai Kebudayaan

Lanjut Syamsul, Satu-satunya negara didunia yang belum punya negara tapi sudah punya ideologi yaitu Indonesia dengan nama Pancasila, yang diambil dari Kitab Sutasoma tulisan Mpu Tantular, dan tertera dalam salah satu Pupuh kitab Negara Kertagama, yakni Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Jelas tokoh budaya senior ini.

Ditempat yang sama juga, Ki Jliteng budayawan asal Desa Trowulan, juga menyampaikan cikal bakal berdirinya Larung Sesaji di Trowulan yang dimulai atas inisiatifnya, berkeluh kesah atas tiadanya budaya tersebut sejak empat tahun yang lalu sampai sekarang belum ada gerakan menuju kesana.Terangnya,

Ki Jliteng bercerita bahwa dulu Arung Sesaji dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, namun sekarang menjadi sepi.

Dia berharap agar budaya itu diaktifkan lagi, agar perekonomian masyarakat sekitar, semakin maju dan tentunya dapat menarik wisatawan, baik wisatawan lokal maupun luar negeri dapat menikmati asal muasal budaya kita. Tandasya.

Menyelam sambil minum air, budayawan baju hitam-hitam yang hadir pada saat itu dan tidak mau disebut namanya bercerita kepada awak media ini bahwa ” Sekarang para budayawan Mojokerto dibuat gaduh oleh oknum yang mengaku-ngaku budayawan, namun tidak mengerti budaya, budaya hanya dipakai untuk mencari keuntungannya sendiri, tidak melihat akibatnya.”

Saya kasihan sama Pak Kusnadi, beliau orangnya baik, niatnya pun baik, namun dimanfaatkan oleh orang yang tidak baik.

Kalau memang mengaku seorang budaya, Ada Satu parameter yang bisa dijadikan pedoman dalam melihat kadar seseorang yang berbudaya dengar benar.
Budaya adalah tata laku yang menyangkut Mentality dan kalimat verbal yg diucapkan .
Orang jawa pasti nemegang pedoman ” Dedalane Guno lan Sakti, Ono catur mungkur, Ono Bapang Nyimpang Wani ngalah, Andap asor Luhur budi pekerti.” Jika sudah menjalankan pedoman laku itu pastilah orang yang ” berbudaya.”

Perlu diketahui, diawal acara Gus Taji selalu ketua Laskar Mojopahit
Benteng Nusantara – Negara Kesatuan Republik Indonesia (LMBN – NKRI) mengatakan “Budaya sebagai Panglima” bahwa semua manusia yang hidup .. (Jo)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *