Riwayat Singkat, Sejarah Pemerintah Kabupaten Mojokerto

Mojokerto, Jejakjurnalis,id –
Dengan melihat sinyal pada pasal-pasal dua Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Mojokerto Nomor 22/Tap/Kdh/1973 tanggal 12 September 1973, bahwa Ketetapan tentang hari jadi tersebut bersifat sementara, maka Bupati Kepala Daerah Tingkat II Mojokerto H. Mahmoed Zain, SH. sejak awal menjabat mulai mengadakan berbagai upaya pendekatan, mengingat hari jadi Kabupaten Mojokerto yang lebih ditetapkan pada tanggal 12 September 1938 kurang memberikan etos kerja dan jati diri masyarakat Kabupaten Mojokerto yang mempunyai akar sejarah berkaitan erat dengan kebesaran Kerajaan Mojopahit.

Maka mulailah dilakukan berbagai upaya untuk menelusuri hari jadi Mojokerto yang lebih berakar kepada perjuangan para pendahulu bangsa, ketika pada saat kejayaannya, untuk dijadikan semangat dalam membangun dan mengabdi kepada Negara dan Bangsa saat kini serta dapat memberikan gambaran untuk mampu memberikan loncatan prestasi dimasa mendatang dengan menggali potensi yang ada di daerah.

Upaya pendekatan tersebut antara lain sebagai berikut :
Pada tanggal 20 Agustus 1991 dilaksanakan “Seminar Sehari” dengan thema “Kabupaten Mojokerto Menyongsong Hari Esok”.
Pada tanggal 8 September 1992, dilaksankan simposium Menyongsong Tujuh Abad Mojopahit, yang dihadiri oleh Sekjen Depdagri, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur, Javanologi Surabaya, Pakar-pakar sejarah baik dari Perguruan Tinggi maupun Dinas/Instansi terkait.

Disamping itu, berbagai pihak telah memberikan sumbang saran seperti dari kalangan Cerdik Cendekiawan, dari Perguruan Tinggi, dari Instansi, baik yang datangnya dari Kabupaten Mojokerto sendiri maupun dari luar Daerah.

Pembentukan Tim Penulisan Sejarah dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Mojokerto Nomor 438 Tahun 1992 tentang Pembentukan Tim Penulisan Sejarah Mojokerto.

Dengan memperhatikan rentetan periskan 8 (delapan) alternatif untuk dipertimbangkan sebagai Hari Jadi Mojokerto, yaitu :

Pertemuan antara Perdana Menteri, Sih-la-nan-da-cha-ya dengan shih-pi, Panglima tertinggi pasukan Tar-Tar, dapat dipandang sebagai wujud pengakuan diplomatik atas Negara berdaulat dalam rangka kerjasama Internasional untuk menyerang Doho.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp