KOTA MOJOKERTO, Jejakjurnalis.id – Persoalan pasokan air kembali menjadi perhatian penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Cinde Kota Mojokerto. Warga mengeluhkan gangguan air yang dinilai mengganggu kebutuhan dasar penghuni dan berencana melakukan audiensi dengan pihak pengelola untuk meminta solusi serta evaluasi terhadap sistem pelayanan.
Gangguan air dinilai bukan sekadar persoalan fasilitas, karena berdampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari penghuni, mulai dari mandi, mencuci, memasak hingga kebutuhan sanitasi.
Penghuni berharap persoalan tersebut tidak hanya ditangani ketika gangguan terjadi, tetapi dilakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Tara, penghuni Rusunawa Cinde sekaligus pengurus Paguyuban Rusunawa Cinde, mengatakan warga ingin persoalan air dibahas secara terbuka dan menghasilkan langkah penyelesaian yang jelas.
“Kami tidak ingin mencari konflik. Kami ingin ada solusi. Kalau masalah air ini menyangkut banyak penghuni, tentu harus ada penanganan yang jelas, termasuk bagaimana ketika terjadi gangguan, siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana informasi disampaikan kepada warga,” ujar Tara.
Menurut Tara, persoalan gangguan air sebenarnya bukan pertama kali terjadi di Rusunawa Cinde.

Pada Februari 2024, penghuni pernah mengalami kondisi air mati total selama kurang lebih 10 hingga 14 hari. Menurut keterangan warga, keluhan mengenai kondisi tersebut telah disampaikan sebelum adanya penanganan langsung dari pemerintah daerah.
Persoalan tersebut kemudian mendapat perhatian setelah Pj Wali Kota Mojokerto yang saat itu menjabat turun langsung ke Rusunawa Cinde dan melakukan inspeksi mendadak (sidak). Setelah dilakukan pengawalan dan penanganan, persoalan air tersebut menurut warga dapat diselesaikan dalam kurun waktu kurang lebih satu minggu.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan warga meminta agar persoalan air saat ini mendapatkan perhatian serius dan tidak dibiarkan berlarut-larut.
“Kami pernah mengalami air mati total sampai sekitar 10–14 hari pada 2024. Setelah Pj Wali Kota turun langsung dan mengawal persoalan, penyelesaiannya bisa lebih cepat. Kami berharap pengalaman itu menjadi pembelajaran agar sekarang ada respons yang lebih cepat,” kata Tara.
Melalui audiensi, penghuni berharap dapat memperoleh penjelasan mengenai penyebab gangguan air, langkah penanganan, sistem pengaduan serta upaya pencegahan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
“Kami hanya ingin kebutuhan dasar penghuni terpenuhi dan ada kepastian pelayanan. Kalau ada masalah teknis, mari kita cari solusi teknisnya bersama,” pungkas Tara. (Jo)