Pemkab Mojokerto Gelar Gema Pitu Di Jatipasar Trowulan

Redaksi
By Redaksi
11 Views
3 Min Read

KABUPATEN MOJOKERTO, Jejakjurnalis.id – Pemerintah Kabupaten Mojokerto kembali menggelar Gerakan Bersama Masyarakat di Posyandu Terintegrasi Terpadu (Gema Pitu) untuk memperkuat percepatan penurunan stunting, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan dasar bagi masyarakat yang berlangsung di Balai Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Selasa (4/8), Pagi.

Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Mojokerto, Shofiya Hanak Albarra yang akrab disapa Ning Hana.

Mengingatkan masyarakat untuk memahami perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan berkaitan dengan kondisi fisik seperti tinggi dan berat badan, sedangkan perkembangan menyangkut kemampuan otak, kecerdasan, serta keterampilan anak yang harus dipantau sejak dini.

Ia juga menegaskan pentingnya pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sebagai pedoman dalam memantau tumbuh kembang anak.
“Buku KIA ini jimat panjenengan. Di sini ada kolom-kolom stimulasi untuk mendukung perkembangan yang wajib diisi orang tua, bukan diisi kader,” tegas Ning Hana.

Tak hanya itu, masyarakat juga diedukasi olehnya mengenai pentingnya pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) sesuai tahapan usia dengan mengutamakan bahan makanan alami serta membatasi penggunaan gula, garam, dan penyedap rasa.

Para ibu pun diimbau menghindari faktor risiko kehamilan melalui prinsip 4T, yakni tidak terlalu muda, tidak terlalu tua, tidak terlalu dekat jarak kehamilan, dan tidak terlalu banyak melahirkan. Ia juga membeberkan terkait paparan asap rokok yang bisamenjadi salah satu faktor yang dapat menghambat penyerapan nutrisi pada janin sehingga berpotensi meningkatkan risiko stunting.

Masih dalam arahannya, Ning Hana juga menjelaskan bahwa Gema Pitu merupakan program edukasi sekaligus sosialisasi mengenai transformasi Posyandu yang kini telah berkembang menjadi Posyandu Terintegrasi Terpadu. Menurutnya, Posyandu tidak lagi hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi pusat pelayanan masyarakat yang mencakup enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM), yaitu pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, serta bidang sosial.

“Posyandu ini mengalami perubahan, sebenarnya lebih terintegrasi, lebih komplit. Yang dulunya hanya dalam pelayanan kesehatan, sekarang ditambah lagi dengan bidang-bidang yang lainnya,” ujar Ning Hana.
Pada bidang pendidikan, ia menekankan pentingnya membangun budaya literasi sejak usia dini. Ia mengimbau para orang tua agar tidak mengenalkan gawai kepada anak usia 0 hingga 2 tahun karena periode tersebut merupakan masa emas perkembangan otak yang membutuhkan stimulasi langsung melalui interaksi dan membaca buku.

“Anak usia 0 sampai 2 tahun monggo dimaksimalkan mengenal literasi itu lewat buku saja. No screen time, tidak ada dikenalkan gadget. Karena di usia itu masa perkembangan otaknya sangat pesat,” jelasnya.

Selain itu, Ning Hana juga mengajak masyarakat untuk proaktif melaporkan apabila terdapat Anak Tidak Sekolah (ATS) di lingkungan masing-masing. Menurutnya, berbagai faktor penyebab, mulai dari kondisi ekonomi, pernikahan dini, perundungan, hingga disabilitas, perlu diidentifikasi agar anak-anak tersebut dapat memperoleh solusi yang tepat, baik melalui pendidikan formal maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). (Jo)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *