Jombang, Jejakjurnalis.id – Bertempat di Aula 1 dan Aula 3 Disdikbud Jombang tanggal 10 s/d 12 April menyelengarakan Workshop Pendidikan Inklusif untuk Sekolah Menengah Pertama, dalam rangka meningkatkan pendidikan inklusif di kabupaten Jombang.
Workshop ini diikuti oleh Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, dan Guru Bimbingan Konseling (BK) dari 48 SMP Negeri di Kabupaten Jombang.
Mengawali sambutannya pada hari pertama workshop, Kepala Disdikbud Jombang, Senen, S.Sos., M.S.i menyampaikan, bahwa jika para guru bisa menjadi contoh yang baik, maka para siswa akan menjadi generasi yang lebih baik pula.
“Penting bagi kita semua untuk duduk bersama dan membahas permasalahan yang dihadapi oleh para siswa dan tanggung jawab ini tidak hanya terletak pada Guru BK saja. Kita tidak boleh menolak siswa berkebutuhan khusus untuk masuk ke sekolah reguler, oleh karena itu kita membuka program sekolah inklusif,”tegasnya.
Salah satu narasumber dalam workshop, yaitu Susiana, menjelaskan bahwa Pendidikan Inklusif adalah program yang dapat menampung anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Sekolah harus beradaptasi dengan kurikulum, metode pembelajaran, fasilitas, penilaian, dan sebagainya.
“Kami telah membentuk kelompok diskusi terarah (FGD) untuk menghasilkan Standar Operasional Prosedur (SOP) mengenai Pendidikan Inklusif di Sekolah,” ucap Susiana, yang merupakan Pengawas SMP Disdikbud Jombang.
Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan inklusif di Kabupaten Jombang, Workshop Pendidikan Inklusif Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan langkah yang sangat penting.
Dengan melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, dan guru bimbingan konseling (BK) dari 48 SMP Negeri, workshop ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk berbagi pengetahuan, pengalaman dan terbaik praktik dalam menerapkan pendidikan inklusif di lingkungan sekolah.
Kepala Disdikbud Jombang, Senen, S.Sos., M.S.i dalam sambutannya menekankan, pentingnya peran guru sebagai contoh teladan bagi para siswa. Jika para guru dapat menjadi contoh yang baik, maka para siswa akan terinspirasi dan menjadi generasi yang lebih baik pula.
“Oleh karena itu, para guru perlu memahami betapa besar tanggung jawab mereka dalam membimbing dan mendidik para siswa,”imbuhnya.
Salah satu hal penting yang dibahas dalam workshop, ini adalah tentang pentingnya membuka peluang pendidikan inklusif bagi siswa berkebutuhan khusus untuk dapat masuk ke sekolah reguler.
Menurutnya, Disdikbud Jombang meyakini, bahwa setiap siswa memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas tanpa memandang latar belakang atau kebutuhan khusus yang dimiliki.
“Dalam pendidikan inklusif, sekolah harus dapat beradaptasi dengan kurikulum dan metode pembelajaran yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan semua siswa. Hal ini mencakup penyediaan bahan ajar yang sesuai, penggunaan teknik pembelajaran yang beragam, dan penerapan pendekatan individualisasi dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, setiap siswa dapat mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang,”ungkapnya.
Selain itu, sekolah juga perlu memastikan ketersediaan fasilitas dan sarana prasarana yang ramah inklusi. Misalnya, aksesibilitas yang memadai bagi siswa dengan mobilitas terbatas, ruang kelas yang dapat diakses oleh siswa dengan kebutuhan khusus, dan fasilitas pendukung lainnya, seperti perpustakaan yang menyediakan literatur yang dapat diakses oleh semua siswa.
Dalam pendidikan inklusif, penilaian harus dilakukan secara adil dan mempertimbangkan kebutuhan khusus siswa. Guru perlu memiliki pemahaman yang baik tentang cara menilai kemampuan dan potensi siswa secara menyeluruh, tidak hanya berdasarkan tes tulis semata.
“Pendekatan penilaian yang holistik dan melibatkan berbagai aspek perkembangan siswa dapat memberikan gambaran yang lebih akurat tentang prestasi dan potensi mereka,”ujar Senen.
Pendidikan inklusif tidak dapat dilakukan dengan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi dan keterlibatan semua pihak terkait, termasuk guru, kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar.
“Semua pihak harus saling bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung perkembangan semua siswa. Komunikasi yang baik antar pihak juga penting, agar setiap kebutuhan siswa dapat dipenuhi dengan baik,”katanya.
Dalam Workshop Pendidikan Inklusif SMP yang diselenggarakan oleh Disdikbud Jombang, tujuan utama adalah untuk menciptakan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas mengenai pendidikan inklusif di sekolah.
“Dengan adanya SOP yang terstruktur dan terukur, diharapkan dapat memberikan pedoman bagi semua sekolah dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif secara efektif dan konsisten,”pungkas Kepala Disdikbud Jombang, Senen, S.Sos., M.S.i. (Dit)






